<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dharma Wanita Persatuan KBRI Berlin</title>
	<atom:link href="http://dwpbaru.kbri-berlin.de/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dwpbaru.kbri-berlin.de/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 21:26:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Tusuk Konde Perempuan Batak Made In Düsseldorf</title>
		<link>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=561</link>
		<comments>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=561#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 21:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>karsia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=561</guid>
		<description><![CDATA[Düsseldorf ,  sebuah  kota  dekat  perbatasan  Jerman  dan  Belanda,  berjarak  800 km  dari ibukota Berlin ternyata  di salah satu  pojok kotanya memiliki  hubungan  erat  dengan  perempuan  Batak.  Mengapa bisa  demikian ?  Karena di  sebuah  jalan  kecil  di tengah kota, Düsseldorf tersebut  terdapat sebuah  toko  pengrajin  hiasan rambut, tepatnya tusuk konde  yang sangat dicintai  perempuan Batak,  khususnya ibu-ibu  yang  masih  berpegang pada  tradisi  turun temurun,  pergi ke  gereja dengan memakai  sanggul<a href="http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=561">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Düsseldorf ,  sebuah  kota  dekat  perbatasan  Jerman  dan  Belanda,  berjarak  800 km  dari ibukota Berlin ternyata  di salah satu  pojok kotanya memiliki  hubungan  erat  dengan  perempuan  Batak.  Mengapa bisa  demikian ?  Karena di  sebuah  jalan  kecil  di tengah kota, Düsseldorf tersebut  terdapat sebuah  toko  pengrajin  hiasan rambut, tepatnya tusuk konde  yang sangat dicintai  perempuan Batak,  khususnya ibu-ibu  yang  masih  berpegang pada  tradisi  turun temurun,  pergi ke  gereja dengan memakai  sanggul dan kebaya.  Suatu  kebanggaan tersendiri  bagi  mereka, pergi ke  gereja atau  acara –acara  lain dengan  memakai  tusuk konde  made in  Jerman.  Satu-satunya  toko  pengrajin perhiasan  tusuk konde  ini  telah sangat  masyur  namanya  di kalangan orang Indonesia yang  bermukim di Jerman khususnya yang berasal dari  daerah  Sumatra Utara   .</p>
<p>Kemasyuran  nama  toko tersebutpun telah  menarik  minat  pengurus  DWP KBRI  Berlin. Keingintahuan,  apa  sebenarnya   yang menyebabkan  hiasan  rambut tersebut sangat  istimewa? Karenanya, pada kesempatan mengunjungi  <em>Floriade</em>, di  Venlo, Belanda, pameran  bunga  terbesar  se-Eropa  yang  diselenggarakan  10 tahunan sekali , kamipun menyempatkan  diri untuk  berkunjung ke sana .</p>
<p>Toko dan rumah  pemilik  pengrajin  Wolfgang Sief itu  terletak  tak  jauh dari  pusat kota Düsseldorf .  Rumah  biasa layaknya  apartemen  di Jerman, tak  menunjukkan keistimewaan apapun,  tidak menyerupai toko perhiasan layaknya.  Hanya  di jendela  rumah  , terpampang  tulisan  <em>Spezialwerkstatt</em> für Haarschmuck (Pengrajin khusus  perhiasan rambut )  , yang memberi petunjuk bahwa  kami tak salah  jalan dan  berada di alamat yang tepat . Hanya  ketua DWP  KBRI  Berlin, Atiek  Pratomo yang pernah  beberapa tahun sebelumnya mengunjungi tempat ini dan meyakinkan  bahwa  memang itulah tempat  pengrajin  konde  yang dimaksud .  Selebihnya 6 orang pengurus  DWP lainnya  baru pertama kali mengunjungi toko ini.</p>
<p>Sejarahnya dulu,  para  penginjil dari Jerman  ketika mereka  bertugas  di  Sumatra, khususnya  daerah  Batak,  yang  memperkenalkan dan  membawa   perhiasan  tusuk  konde made in Düsseldorf ini  sebagai  buah  tangan  ibu-ibu  yang  memang memiliki  tradisi  memakai  konde  ke  gereja atau  ke acara  adat  di  tanah Batak.  Tak  diperoleh data  yang jelas,  sejak kapan tradisi  oleh-oleh made in Jerman ini  mulai diminati dan  menjadi  tradisi , yang  jelas pada  website  toko mungil milik  Wolfgang Sief  ini  hanya  tertulis,  toko ini berdiri  sejak  tahun  1950, dan  Sief ketika  DWP bertanya,   mengambil alih kepemilikan  serta melanjutkan  sebagai  pengrajin  hiasan rambut  sejak  tahun  1980. Dia meneruskan  usaha keluarga  dari  ayah teman baiknya.  Di  dinding toko tersebut , ada sebuah  plakat pendirian  perusahaan yang memang  tertera  tahun  1950.</p>
<p>Bahan  dasar hiasan  rambut  yang  dibuat dari  kulit penyu pada  awalnya, sekarang digantikan dengan  dengan  bahan  plastik sintetis, karena  tidak mungkin lagi mendapatkan bahan asli dari kulit penyu.  Ketika pengurus  DWP memasuki  ruangan  kecil  berukuran 2&#215;3 meter  itulah, barulah  kami  merasakan    pesona kecantikan  tusuk-tusuk konde  , bross,  penjepit  rambut  serta keranjang  rambut yang biasanya dipakai  perempuan yang  menggelung rambut panjangnya  . Hiasan –hiasan rambut  berwarna kecoklathitaman itu  dihias dengan permata-permata kecil  kristal  Swarovsky, jaman dulunya  perempuan Batak menyebutnya jepit rambut <em>Berlian Jerman</em>. Bentuk rancangannyapun   beraneka ragam dan  dibuat dengan  ketrampilan tangan  yang sangat  rapih dan  detail tekstur desainnya. Antusias masyarakat Indonesia  yang berkunjung  ke toko tersebut, ditandai dengan adanya beberapa  souvenir  Indonesia yang  terpajang  di toko, misalnya wayang  dan ada  hiasan  rambut buatan toko  tersebut  yang bertuliskan  GKBI ( Gereja Kristen batak Indonesia ).</p>
<p>Hampir selama  lebih  dari  1 jam,  pengurus  DWP  asyik memilih –milih model  yang diinginkan. Dua  orang pengurus  berasal dari Sumatra Utara pun  antusias memilih, satu untuk  nanboru, satu untuk  eda, satu lagi untuk  ibu tercinta ,  satu untuk yang lain, sampai  keranjang  belanja  penuh dengan  tusuk konde, penjepit  rambut  dan  perhiasan  rambut  lainnya. Keasyikan  memilih  barang yang  diinginkan ditambah  dengan riuh ramainya  komentar  pengurus  DWP ditemani  adik  pemilik toko. Harga  perhiasan itupun beragam, mulai dari  5 € (sekitar  Rp.60 ribuan )  yang termurah,  sampai  ratusan Euro  pun ada, tergantung dari besar , keunikan  rancangannya serta fungsi  perhiasan tersebut.  Sang pemilik kakak beradik langsung  sibuk melayani dan  lumayan  cukup kaget dengan kedatangan  kami  yang tiba-tiba  tanpa  reservasi sebelumnya, tapi membawa rejeki yang lumayan besar untuk kakak  beradik tersebut. Kamipun mendapatkan  bonus hadiah  dari si pemilik toko.  Sang pemilik yang hanya menguasai  sedikit kosa  kata  bahasa  Indonesia itupun, menggunakan  kata  <em>hadiah </em>daripada <em>Geschenk </em>dalam bahasa  Jerman untuk arti kata yang sama. Setelah  puas memilih dan membayar, kamipun beranjak  pergi untuk menikmati  suasana  kota  Düsseldorf  yang cantik sekaligus mencari  tempat santap malam .</p>
<p>Layak untuk kita tahu, bahwa  kanal yang  sangat penting  ketika kita berwisata di Jerman,  adalah  wisata menyusuri Sungai Rhine. Sungai sepanjang 1.320 km yang membelah delapan negara Eropa Barat dan sebagian besar di wilayah Jerman  itu juga membelah  kota  Düsseldorf.</p>
<p>Sungai Rhine adalah sungai besar yang lingkungannya terjaga bersih. Berawal dari daerah Grisons di Pegunungan Alpen di Swiss, mengalir sepanjang 1.320 km membelah delapan negara, dari Swiss &#8211; Italia &#8211; Liechtenstein &#8211; Austria &#8211; Jerman &#8211; Perancis &#8211; Luxemburg &#8211; Belanda. Sekitar   1000 km, sungai itu mengalir dan membelah kota-kota besar di Jerman. Melewati kota-kota besar, dari Basel, perbatasan Jerman dengan Perancis, Strasbourg di wilayah Swiss, kemudian mulai masuk ke wilayah Jerman dari Karisruhe, yaitu daerah industri baja Jerman. Selain itu sungai itu  melewati kota  Köln, Düsseldorf, Wiesbaden, Mannheim, Mainz, Koblenz, Karlsruhe, dan sebagainya dan beberapa  wilayah kota-kota lain di sepanjang  Jerman .</p>
<p>Pinggiran  sungai Rhine  yang membelah  kota Düsseldorf  ternyata  sangat  apik tertata,  bangunan  kuno apartemen,  menara tua yang berdampingan dengan  jalan setapak menuju  restoran tenda  pinggir  sungai  dan  pohon-pohon berjajar  rapih  disepanjang  jalan itu. Bangku taman  menghadap  sungai, membuat  siapapun betah untuk  menikmati pemandangan  matahari  terbenam  di  situ.  Pejogging  dengan  walkman  dan anjing pudelnya pun ikut menambah  hidup suasana  kota Düsseldorf .  Setelah  menikmati jalan-jalan sore  dan  beristirahat sejenak di  cafe  tenda  dengan  menyeruput  teh, kopi  dan  minuman ringan  yang menghangatkan  badan , kamipun berpindah tempat lagi mencari restoran  Vietnam. Tak  dinyana,  kebetulan  malam itu  malam nobar (nonton bareng) sepak  bola. Jalan-jalan kecil penuh toko dan  restoranpun  suasanananya meriah dan ramai  dengan  penonton  sepak bola.  Restoran kecil  Vietnam  yang menjual  sup Pho  khas  Vietnam dengan suasana santai itupun  menambah  riang  hati kami yang walau telah lelah karena  menempuh perjalanan panjang  dari Berlin. Düsseldorf  telah  membawa  kenangan  unik bagi  kami  pengurus  DWP  Berlin, selain  memiliki hubungan  <em>bathin </em>dengan  perempuan  Batak,  kecantikan  kota  dan  suasana ´hidup´ kotaitu menambah  indahnya kenangan  kebersamaan kami.  ( oleh-oleh kunjungan Düsseldorf tgl .19 April 2012, Maria K.A Tavipsyah )</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?feed=rss2&#038;p=561</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ROCK  YOUR LIFE, Sebuah Inovasi Anak-anak Muda di Jerman</title>
		<link>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=556</link>
		<comments>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=556#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 20:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>karsia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=556</guid>
		<description><![CDATA[Sistem pendidikan dasar di Jerman yang terbagi atas Gymnasium, Realschule  dan Hauptschule dikritik sebagai ‘tidak adil’ untuk sebagian anak, terutama yang masuk Hauptschule karena merasa mendapat batasan dalam kesempatan masuk di dunia pendidikan dan dunia kerja. Rock You Life (RYL) Sebuah initiasiatif anak-anak muda Jerman yang diprakarsai oleh Christina Veldhoen, bertujuan untuk membantu anak-anak sekolah dari  keluarga yang ‘kurang beruntung’ di Jerman, misalnya yang berasal dari orangtua tunggal, keluarga imigran<a href="http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=556">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sistem pendidikan dasar di Jerman yang terbagi atas Gymnasium, Realschule  dan Hauptschule dikritik sebagai ‘tidak adil’ untuk sebagian anak, terutama yang masuk Hauptschule karena merasa mendapat batasan dalam kesempatan masuk di dunia pendidikan dan dunia kerja.</p>
<p>Rock You Life (RYL) Sebuah initiasiatif anak-anak muda Jerman yang diprakarsai oleh Christina Veldhoen, bertujuan untuk membantu anak-anak sekolah dari  keluarga yang ‘kurang beruntung’ di Jerman, misalnya yang berasal dari orangtua tunggal, keluarga imigran atau  murid-murid dengan nilai akademis kurang bagus, khususnya murid-murid Hauptschule untuk mengembangkan diri dan memperluas wawasa sehingga  bisa mendapat kesempatan pendidikan dan kerja yang lebih luas. Christina Veldhoen adalah mahasiswi  kelahiran tahun 1982 , kuliah Master  Komunikasi dan Manajemen Budaya di privat universitas Zeppelin di kota Friedrichshafen. Tahun 2009 bersama teman kuliahnya Elisabeth Hahnke dan Stefan Schabernak, dia membentuk sebuah inisiatif bernama  &#8220;Rock your Life!&#8221;, dengan ide untuk membantu murid-murid Hauptschule untuk  me -<em>&#8220;rocken&#8221;</em> hidupnya.</p>
<p>Dalam pertemuan rutin bulanan klub istri-istri diplomat <em>Wilkommen in Berlin</em> tanggal 16 April 2012 yang kali ini diselenggarakan di Touro College, sebuah privat universitas di Berlin, Christina Veldhoen dan dua pengurus RYL lainnya mendapat kesempatan untuk memberikan presentasi yang sangat menarik tentang ide awal pendirian, visi dan misi RYL.</p>
<p>Ide awalnya dimulai Christina dengan pertanyaan sederhana tetapi sangat penting dalam kehidupan seorang anak yaitu: “Siapa yang membantu saya , menginspirasi dan memotivasi dalam kehidupan?”. Sebagai jawaban atas pertanyaan mendasar ini, setiap individu anak tentunya mempunyai jawaban yang berbeda-beda dan beberapa anak beruntung bisa mempunyai jawaban lebih dari satu.  Setiap kesempatan untuk bertemu dengan orang lain  tentunya akan memberikan makna yang berarti bagi khususnya anak-anak. Pertemuan dengan seseorang dapat pula mengubah jalan hidup kita. Tahukah orang lain  akan potensi diri kita? Percayakah orang lain akan kemampuan kita? RYL membantu membangkitkan semangat dan rasa tanggung jawab murid-murid Hauptschule, untuk menemukan potensi dirinya dan mengembangkan diri dalam menentukan jalan hidupnya nanti.  Selain itu, RYL membuat jejaring dengan perusahaan-perusahaan di Jerman, dimana murid-murid Hauptschule nantinya dapat dengan mudah masuk kedalam dunia kerja nyata. Oleh karena itu motto dari RYL adalah : <em>Kami membangun Jembatan di seluruh Jerman  antara Murid Sekolah, Mahasiswa dan Perusahaan</em></p>
<p>Pertanyaan lainnya yang memotivasi Christina adalah:  Apa yang dapat diperbuat oleh para mahasiswa untuk ikut andil dalam pendidikan ‘yang adil’?  Murid-murid Hauptshule dan mahasiswa pasti dapat saling memperoleh keuntungan, jika mereka dapat  ‘saling dipertemukan’. Peran apa yang dapat diberikan perusahaan dalam kondisi nyata sistem pendidikan dasar di Jerman? Apa yang mesti dilakukan murid-murid Hauptschule untuk mempersiapkan diri masuk dalam dunia kerja yang diinginkannya? Dari pertanyaan-pertanyaan batin tersebut, timbullah ide tiga anak muda Jerman dari Friedrichshafen tersebut untuk mendirikan Rock Your Life.</p>
<p>Apa kegiatan konkrit dari RYL??  Sangat menarik dan sangat menyentuh&#8230;.  Mereka mencari mahasiswa dari berbagai universitas di Jerman untuk menjadi <em>volunteer</em> dan bersedia meluangkan waktu untuk menjadi &#8220;kakak dan teman&#8220; dari seorang murid Hauptschule.  Hubungan 1 mahasiwa dan 1 murid Hauptschule tertentu tersebut dirancang selama 2 tahun pada 2 tahun terakhir di Hauptschule dan masa transisi memasuki pendidikan kejuruan atau <em>Ausbildung</em>, mereka bertemu 1 kali dalam seminggu. Mahasiswa tersebut membantu murid Hauptshule untuk membuka wawasan, membagi pengalaman, memberikan info, motivasi dan saran2 tetapi bukan sebagai guru privat yang membantu dalam pekerjaan sekolah.  Dalam hubungan 1 – 1 ini diharapkan dapat memotivasi, menaikkan rasa percaya diri murid-murid Hauptschule. Diluar dugaan, yang berminat untuk menjadi volunter sangat banyak sehingga saat ini, sejak didirikan pada tahun 2009, RYL sudah memiliki sekitar 1000 hubungan yang tersebar di 20 kota di Jerman.  Stigma orang Jerman yang  kaku, kurang ramah dan tidak peduli, yang sering kita dengar selama ini setidaknya  tidak terbukti pada generasi muda Jerman saat ini, yang lebih toleran menghadapi perbedaan dan tanggap terhadap kondisi sosial.</p>
<p>RYL mendatangi beberapa hauptschule untuk mencari murid-murid yang berminat ikut program, menginformasikan pada orang tua dan guru-guru dan meminta support mereka dalam hubungan murid dan mahasiswa yang akan dibentuk. Banyak <em>success story </em>yang terjadi tetapi ada pula yang gagal, RYL mempunya mekanisme monitoring setiap hubungan.</p>
<p>Inisiatif yang dilakukan anak-anak muda tersebut menarik perhatian pemerintah dan terpilih pada tahun 2012 sebagai  pemenang utama diantara 365 inisiatif dalam kerangka “Jerman sebagai Negara Ide (<em>Land der Idee)”</em>, sebuah kontes yang dilaksanakan Bundespresident bekerjasama dengan Deutsche Bank. Kontes ini setiap tahunnya menampilkan 365 inisiatif dan proyek-proyek inovatif yang memberikan kontribusi berkelanjutan pada masa depan negara Jerman.</p>
<p>Kepedulian anak-anak muda terhadap masalah sosial negaranya tidak hanya terjadi di Jerman. Di Indonesia saat ini juga banyak bermunculan inisiatif-inisiatif serupa yang dimotori oleh anak-anak muda. Salah satunya adalah “Kelas Inspirasi” di Jakarta, dimana anak-anak muda yang sudah bekerja di berbagai bidang pekerjaan, meluangkan waktunya sebagai <em>volunteer</em>, sekali dalam seminggu  bertemu muka dengan anak-anak yang ‘kurang beruntung’, anak putus sekolah, anak jalanan, anak-anak sekolah gratis dan ‘sebagai kakak’ berbagi pengalamannya, untuk lebih memotivasi dan memberikan semangat anak-anak tersebut  mencapai pendidikan yang lebih baik.  ( Ny. Laksmi Yul Nazaruddin).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?feed=rss2&#038;p=556</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peluncuran Buku &#8220;From The Ambassador&#8217;s Kitchen&#8221;</title>
		<link>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=550</link>
		<comments>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=550#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 19:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>karsia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai bagian dari upaya untuk lebih memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia, Ibu Atiek Pratomo, isteri Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman yang juga  Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Berlin, telah meluncurkan   buku yang berjudul From the Ambassador’s Kitchen. From the Ambassador‘s Kitchen berisi berbagai resep masakan Nusantara terbaik, meliputi menu-menu hidangan utama, aneka sop, dan juga tentunya aneka jajanan pasar, yang diseleksi khusus oleh Ibu Atiek Pratomo berdasarkan pengalamannya<a href="http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=550">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai bagian dari upaya untuk lebih memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia, Ibu Atiek Pratomo, isteri Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman yang juga  Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Berlin, telah meluncurkan   buku yang berjudul <em>From the Ambassador’s</em> <em>Kitchen</em>.</p>
<p><em>From the Ambassador‘s Kitchen</em> berisi berbagai resep masakan Nusantara terbaik, meliputi menu-menu hidangan utama, aneka sop, dan juga tentunya aneka jajanan pasar, yang diseleksi khusus oleh Ibu Atiek Pratomo berdasarkan pengalamannya dalam mengadakan jamuan diplomatik selama mendampingi Bapak Dr. Eddy Pratomo berkarir di Kementerian Luar Negeri.</p>
<p>Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kelezatan masakan Indonesia, peluncuran buku dilakukan bersamaan dengan penyelenggaraan Resepsi <em>Indonesian Culinary Festival</em> pada tanggal 9 Maret 2012, bertempat di lobby utama The Westin Grand Hotel, Berlin. Dalam resepsi tersebut dihidangkan berbagai masakan khas Indonesia, antara lain Rendang Padang, yang dimasak oleh <em>Master Chef</em> Indonesia, William Wongso bersama dengan timnya, yang berada di Berlin dalam rangka mendukung <em>Indonesian Culinary Festival</em>. Festival yang merupakan bagian dari diplomasi budaya, khususnya untuk memperkenalkan keragaman kekayaan kuliner Indonesia itu sendiri berlangsung pada tanggal 9 hingga 16 Maret 2012 bertempat di restoran <em>Relish</em>, The Westin Grand Hotel Berlin. (Ida Pradopo)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?feed=rss2&#038;p=550</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelezatan Rendang Mampu Memikat Hati Publik Jerman</title>
		<link>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=544</link>
		<comments>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=544#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 19:15:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>karsia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=544</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka mempromosikan obyek wisata dan ragam kekayaan budaya Indonesia termasuk aspek kulinernya, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin telah mengadakan acara Festival Kuliner Indonesia pada tanggal  9-16  Maret 2012 di The Westin Grand Hotel Berlin. Acara Festival Kuliner Indonesia ini terselenggara dalam kaitan perayaan persahabatan 60 tahun hubungan antara Indonesia dan Jerman yang jatuh pada tahun ini. Festival kuliner Indonesia tersebut terbagi dalam beberapa event yaitu resepsi yang menandai<a href="http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=544">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam rangka mempromosikan obyek wisata dan ragam kekayaan budaya Indonesia termasuk aspek kulinernya, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin telah mengadakan acara Festival Kuliner Indonesia pada tanggal  9-16  Maret 2012 di The Westin Grand Hotel Berlin. Acara Festival Kuliner Indonesia ini terselenggara dalam kaitan perayaan persahabatan 60 tahun hubungan antara Indonesia dan Jerman yang jatuh pada tahun ini. Festival kuliner Indonesia tersebut terbagi dalam beberapa <em>event</em> yaitu resepsi yang menandai <em>kick-off</em> Festival Kuliner, peluncuran buku kuliner berjudul <strong><em>From the Ambassador’s Kitchen</em></strong>, <em>cooking workshop</em>, dan sajian hidangan paket masakan dari Sumatra Barat di Restaurant  Relish &amp; Bar selama satu minggu setiap hari, dengan menu antara lain:  rendang, gulai kapau nangka, cumi bakar, sate padang  dan aneka kudapan khas Sumatera Barat,  yang diolah secara khusus  oleh ibu-ibu dari Padang  di bawah pengawasan Bapak William Wongso.</p>
<p>Salah satu <em>event </em> yang tak kalah  penting dalam acara Festival Kuliner,  yang dalam hal ini  melibatkan  peran aktif  Dharma Wanita Persatuan  KBRI Berlin adalah,   ‘<em>Cooking Workshop’</em> yang  diselenggarakan  pada hari Selasa 13 Maret 2012. Cooking workshop dibagi dalam dua sesi . Sesi pertama   berlangsung pada pukul 10.00–12.30, sedangkan sesi yang kedua berlangsung pukul 15.00–17.30, pada hari  yang sama. Di sesi yang pertama,   ibu Atiek Pratomo yang juga   anggota <em>Cooking Group</em> <em>Willkomen in  Berlin </em>( organisasi  istri korps  diplomatik  dan  <em>prominent </em>Jerman),  mengundang  30 anggota <em>Cooking Group</em> untuk  berperan serta di dalam  acara tersebut. Dalam sesi kedua, pesertanya sebagian dari kalangan media, pengusaha, juru masak hotel, travel biro, dan anggota <em>WilIkomen in Berlin</em> yang belum meperoleh kesempatan pada sesi pertama.</p>
<p>Acara demo masak didahului dengan presentasi mengenai Indonesian Rice oleh Mr. Stefan Fax, mewakili LOATA, distributor beras organik Indonesia, yang sudah berhasil memasarkan produk beras Indonesia di sejumlah department store terkemuka di Berlin, antara lain KaDeWe. Bahan baku  produk  beras    diperoleh dari para petani di Tasikmalaya, Jawa Barat.</p>
<p>Workshop memasak dipandu secara langsung oleh  <em>master chef</em> William Wongso, yang  sangat terkenal sebagai duta rendang di dunia kuliner internasional dan memilik reputasi yang sangat baik sehingga oleh Pemerintah RI dipercaya sebagai chef untuk menyiapkan menu masakan Indonesia bagi Menlu Amerika Serikat, Hillary Clinton, pada saat berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. William Wongso  sangat interaktif dan tidak segan-segan membagikan ilmu dan trik cara memasak yang berkualitas telah membangkitkan antusiasme para peserta.  Peserta sangat antusias mengikuti <em>step by step</em> cara memasak sambal goreng rendang, opor ayam, pindang srani salmon, asinan Jakarta, nasi kuning dan kue lumpur labu kuning. Beliau juga mengajak para peserta untuk   menyiapkan sambal goreng rendang sejak dari bahan baku berupa daging dan santan hingga menjadi menjadi sambal goreng rendang  yang sangat lezat dan gurih.</p>
<p>Dalam workshop, kepada peserta juga diberitahukan bahwa bumbu  dasar masakan yang disajikan di acara tersebut, bisa diperoleh di toko khusus produk makanan dan bumbu khas Indonesia  di Berlin,  yaitu <em>Toko Indomarkt</em> .</p>
<p>Tak  terasa,  waktu yang ditunggu-tunggu para  peserta   untuk mencicipi masakan pun tiba. Masakan  yang  di sajikan adalah  menu yang didemonstrasikan<em>.</em> Kelezatan sajian kuliner khas Indonesia tersebut terbukti dari tidak tersisanya masakan yang disajikan. <em>“That’s really a god job,” </em>ujar salah satu peserta dari anggota <em>Willkommen in Berlin</em>.</p>
<p>Pada akhir workshop, Koordinator <em>Cooking Group</em> memberikan cindera mata sebagai  ungkapan  rasa terima kasih kepada William Wongso. Melihat  acara  Cooking  Workshop  berjalan  dengan sangat  interaktif serta antusiasme  peserta  yang demikian tinggi terhadap  kulinari  Nusantara termasuk cara mengolahnya, timbul rasa bangga  dan  kesan  mendalam   bagi  penulis. (Ida  Pradopo )</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?feed=rss2&#038;p=544</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempromosikan Amba Titik di High Tea</title>
		<link>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=531</link>
		<comments>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=531#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 19:55:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>karsia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Sejak dikukuhkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 2 Oktober, 2009  maka pamor Batik sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia semakin menonjol. Sekilas mengenai batik itu sendiri, kata “Batik” berasal dari bahasa Jawa yakni”amba” yang berarti menulis dan “nitik” atau titik, yang sebetulnya merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang<a href="http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?p=531">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak dikukuhkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan non Bendawi <em>(Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)</em> pada tanggal 2 Oktober, 2009  maka pamor Batik sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia semakin menonjol. Sekilas mengenai batik itu sendiri, kata “Batik” berasal dari bahasa Jawa yakni”amba” yang berarti menulis dan “nitik” atau titik, yang sebetulnya merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (<em>wax</em>) yang diaplikasikan ke atas kain sehingga menahan masuknya bahan pewarna (<em>dye</em>).Kerajinan batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Setelah akhir abad ke 18 atau awal abad ke 19, kesenian batik ini meluas menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa. Batik yang dihasilkan pada saat itu keseluruhannya adalah batik tulis sampai awal abad ke 20 dan batik cap baru dikenal setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia dan banyak dikenakan pada acara resmi maupun sehari hari dan dipakai pada acara-acara ritual tradisional sejak kelahiran hingga kematian khususnya di pulau Jawa. <strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Batik juga dijadikan sebagai salah satu agen untuk meningkatkan citra budaya Indonesia di luar negeri.  Khususnya di Jerman, pada tahun 2011 ini KBRI Berlin mengadakan serangkaian kegiatan dalam kerangka acara <em>Indonesian Batik Weeks </em>dimana selama beberapa minggu pada bulan Oktober diluncurkan berbagai program yang berkaitan dengan batik seperti Batik Workshop, Seminar Batik dan Batik High Tea. Keseluruhan rangkaian acara berjalan dengan sukses dan mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat Jerman khususnya pecinta seni dan budaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan KBRI Berlin turut ambil bagian dalam memperkenalkan batik di Jerman, khususnya di Berlin. Dalam perannya sebagai pendamping suami, pada setiap kesempatan internasional, pakaian batik selalu dikenakan sebagai busana khas Indonesia.</p>
<p>Kegiatan Batik High Tea yang diselenggarakan pada tanggal 24 Oktober 2011 pukul 15.00 hingga pukul 17.00 bertujuan memperkenalkan batik sebagai warisan budaya Indonesia khususnya  bagi para istri diplomat negara sahabat, bertempat  di Wisma Duta KBRI Berlin. Pada kesempatan tersebut  ibu Priharyati Pratomo mengundang istri-istri duta besar negara Asia Pasifik dan negara lain, istri-istri diplomat asing dan istri pengusaha Jerman yang tergabung dalam klub Wilkommen in Berlin. Klub ini merupakan inisiatif dari Kementerian Luar Negeri Jerman (Auswärtigesamt) sebagai wadah resmi untuk berkumpul dan bersosialisasi antara para istri diplomat asing dan istri diplomat Jerman di Berlin sehingga dapat saling tukar menukar adat istiadat dan memupuk rasa saling pengertian antar beragam budaya di dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Acara High Tea KBRI Berlin dimulai dengan sambutan oleh ibu Priharyati Pratomo selaku tuan rumah, kemudian dilanjutkan dengan presentasi mengenai batik, proses pembuatannya dan arti motif-motif batik Indonesia oleh seorang ahli batik dari Museum Tekstil Jakarta sekaligus demo cara pembuatan batik tulis. Istri-istri diplomat asing sangat tertarik dan beberapa ibu ingin mencoba sendiri cara melukis batik menggunakan canting. Setelah para tamu menikmati minuman teh hangat Indonesia dan berbagai macam makanan kecil khas Indonesia, acara ditutup dengan peragaan busana batik karya Ba‘i Populo collection, seorang disainer Indonesia yang bermukim di Berlin dan namanya cukup populer.  Sebanyak 30 orang ibu yang hadir dibuat kagum oleh koleksi busana sehari-hari dan busana pesta yang ditampilkan dalam peragaan busana tersebut. Berbagai koleksi kain batik tulis halus dari Ba‘i Populo collection dan museum tekstil Jakarta juga dipamerkan dalam ruangan depan Wisma Duta KBRI Berlin. Acara yang berlangsung selama 2 jam tersebut terasa hangat dan penuh keakraban. Sebuah syal batik sebagai tanda mata bagi hadirin di penghujung acara, semoga membawa kenangan akan Batik sebagai identitas bangsa Indonesia (Ny. Laksmi Yul Y. Nazaruddin).</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dwpbaru.kbri-berlin.de//?feed=rss2&#038;p=531</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

